ArabicKoreanJapaneseChinese SimplifiedEnglishFrenchGermanSpainItalianDutchRussianPortuguese

Showing posts with label Tarbiyah. Show all posts
Showing posts with label Tarbiyah. Show all posts

Thursday, April 1, 2010

Apa itu Tarbiyah?


Secara bahasa Tarbiyah itu maknannya adalah pendidikan atau pembinaan. Selain dua istilah itu ada lagi istilah lainnya yang terkait rapat iaitu halaqah. Secara istilah halaqah bererti pengajian dimana orang-orang yang ikut dalam pengajian itu duduk melingkar. Dalam bahasa lain bisa juga disebut Majlis ilmu, atau forum yang bersifat ilmiyah.

Istilah halaqah ini sangat umum di timur tengah dan biasa dilakukan di banyak masjid. Bahannya berkaitan dengan kitab tertentu seperti aqidah, fekah, hadits, sirah dan seterusnya. Contoh yang paling mudah bisa kita dapati di dua masjid Al-Haram, Mekkah dan Madinah. Setiap hari selalu dipenuhi dengan halaqah yang diisi oleh para masyaikh / ustaz yang merupakan pakar di bidangnya.

Sedangkan istilah liqo` lebih umum dari halaqah, karena isinya bisa saja bukan merupakan kajian ilmiyah, tetapi bisa diisi dengan rapat, pertemuan, musyawarah dan seterusnya.

Istilah halaqah umumnya sering dikaitkan dengan pengajian dalam format kelompok kecil (maksimum 12 orang), dimana ada satu orang yang bertindak sebagai ketua sumber yang sering diistilahkan dengan murabbi / pembina. Secara umum, format halaqah dengan jumlah terbatas ini memiliki kelebihan dan kekurangannya.

Kelebihannya adalah bahwa anggota dari halaqah itu biasanya adalah orang-orang yang sudah terpilih, sehingga lebih mudah untuk menanganinya berbeza apabila jumlahnya terlalu banyak. Sehingga pengawalan dari murabbi akan lebih sempurna.

Kekurangannya adalah apabila kemampuan sang murabbi ini terbatas baik dari sisi waktu, ilmu dan kemampuan dalam membina, sehingga menimbulkan kebosanan dan kejenuhan. Dari sisi ilmu dan wawasan, halaqah kecil ini akan sangat tergantung dari wawasan sang murabbi. Bila kemampuannya baik, maka umumnya anggotanya pun punya wawasan yang baik.

Sehingga meski pada beberapa sisi ada kelebihannya, tapi halaqah kecil ini perlu juga dilengkapi dengan penambahan ilmu-ilmu ke-islaman secara lebih lanjut dan lebih luas, bila ingin mencetak orang-orang yang ahli dalam bidang syariah Islam. Sekedar ikut halaqah yang jam pertemuannya hanya 2-3 jam sepekan tentu sangat kurang bila tujuannya adalah mendalami ilmu-ilmu keislaman. Apalagi bila sang murabbi terbatas ilmu dan kemampuan bahasa arabnya.

Tapi umumnya, halaqah yang banyak diselenggarakan itu memang tidak bertujuan mencetak ahli syariah, tetapi lebih kepada membentuk wawasan dan kepribadian yang Islami. Untuk bisa menelurkan ahli syariah, yang dibutuhkan adalah kuliah di fakultas syariah (tidak cukup juga hanya sekedar ikut kajian mingguan).

Dan untuk melahirkan aktifis yang memiliki wawaan fikrah Islam serta memiliki kepribadian yang islami, sarana halaqah umumnya lumayan bermanfaat.

Namun semua itu tidak lain hanyalah wasilah (sarana) yang bisa dimanfaatkan dalam rangka dakwah kepada Allah dan melahirkan generasi yang islami.

Penulis : Amalul

Lanjutin Baca >> Apa itu Tarbiyah?

Friday, March 26, 2010

Kenapa Kita Perlu Beristigfar 70 atau 100 Kali Lebih Sehari ?


Imam Bukhari rahimahullah berkata di dalam Shahihnya, di kitab ad-Da’awaat:

Bab. Istighfar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sehari semalam.

Abul Yaman menuturkan kepada kami. Dia berkata: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari az-Zuhr’i. Dia berkata: Abu Salamah bin Abdurrahman mengabarkan kepadaku. Dia berkata: Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya meminta ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (Shahih Bukhari cet. Maktabah al-Iman, hal. 1288. Hadits no 6307)

Imam Muslim rahimahullah berkata di dalam Shahihnya, di kitab adz-Dzikr wa ad-Du’aa’ wa at-Taubah wa al-Istighfar:

Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata: Ghundar menuturkan kepada kami dari Syu’bah dari Amr bin Murrah dari Abu Burdah, dia berkata: Aku mendengar al-Agharr dan dia adalah termasuk sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika dia menyampaikan hadits kepada Ibnu Umar. Ketika itu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai umat manusia, bertaubatlah kepada Allah. Kerana sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari kepada-Nya seratus kali.” (Shahih Muslim yang dicetak bersama syarahnya jilid 8, hal. 293. Hadits no 2702)

Itulah gambaran istigfar Nabi saw. agar di contohi oleh kita kaum Muslimin. Persoalan yang timbul mengapa pesuruh Allah yang maksum ini melakukan sedemikian sedangkan begitu banyak janji kemenangan dan syuga telah Allah kurniakan kepada baginda saw.. Bahkan bukan itu sahaja, jika dilihat dari sudut jihad baginda saw. dalam menegakkan hukum Allah, itu sebenarnya lebih jauh untuk membuktikan kesungguhan dan keikhlasan baginda saw..

An-Nawawi rahimahullah berkata setelah menjelaskan kandungan hadits ini, “Adapun kita -apabila dibandingkan dengan Nabi- maka sesungguhnya kita ini jauh lebih membutuhkan istighfar dan taubat -daripada beliau-…” (Syarh Muslim [8/293]).

Benarlah apa yang dikatakan oleh an-Nawawi, semoga Allah merahmati dan mengampuni kita dan beliau. Kurun baginda saw. adalah kurun yang terbaik yang telah membukan ruang kepada perkembangan Islam hingga ke hari ini. Kurun yang di penuhi dengan generasi yang hidup dengan Al-Quran dan segala lapangan. Tetapi mereka juga tidak lekang daripada senantiasa bertaubat kepada Allah swt..

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Ahmad bin Yunus dari Abu Syihab dari al-A’masy dari ‘Umarah bin ‘Umair dari al-Harits bin Suwaid dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, beliau berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seperti orang yang sedang duduk di bawah kaki bukit dan khawatir kalau-kalau bukit itu akan runtuh menimpanya. Adapun orang yang fajir/pendosa maka dia melihat dosa-dosanya seolah-olah seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya lalu dia usir dengan cara begini.” Abu Syihab berkata, “Maksudnya adalah dengan sekedar menggerakkan tangan di atas hidungnya.” … (lihat Shahih Bukhari, hal. 1288)

Marilah kita hidupkan Sunnah/ajaran yang telah banyak ditinggalkan manusia ini, ayyuhal ikhwah -wahai saudaraku- semoga Allah menggolongkan kita di antara hamba-hamba-Nya yang beruntung.

Sumber : Dakwah

Lanjutin Baca >> Kenapa Kita Perlu Beristigfar 70 atau 100 Kali Lebih Sehari ?

Networked Blogs

Blog Archive

Subscribe via email

RSS Feed Subscribe via RSS FEED

Subscribe to posts via email for free :