ArabicKoreanJapaneseChinese SimplifiedEnglishFrenchGermanSpainItalianDutchRussianPortuguese

Friday, April 9, 2010

Menikmati Kesegaran Ibadah


Menelusuri jalan hidup kadang tak ubahnya seperti pengembara yang berjalan di tengah terik. Haus dan melelahkan. Andai ada air segar yang tersaji di tiap persinggahan. Andai tiap orang sadar kalau air segar itu adalah ibadah di tiap persinggahan kesibukan.

Ada yang aneh dari sudut pandang Aisyah r.a. terhadap tingkah suaminya, Rasulullah saw. Ia terheran ketika mendapati Rasul yang begitu menikmati shalat sunnah hingga kakinya bengkak. Apa beliau tidak merasakan sakit itu?

Aisyah pun mengatakan, “Kenapa kau lakukan itu, ya Rasulullah? Bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang dulu dan akan datang?” Dengan ringan Rasul menjawab, “Tak patutkah aku untuk menjadi hamba Allah yang senantiasa bersyukur!”

Kenikmatan beribadah. Itulah yang dirasakan Baginda Rasulullah saw. ketika sedang shalat. Sedemikian nikmatnya, hingga rasa sakit dari bengkak kakinya tak lagi terasa. Beliau seperti tak ingin menyudahi komunikasinya dengan Yang Maha Kasih, Yang Maha Sayang.

Keindahan hubungan antara seorang hamba dengan Khaliqnya itu bukan sesuatu yang terjadi begitu saja. Persis seperti seorang rakyat ketika berkomunikasi dengan seorang pejabat tinggi. Umumnya, komunikasi akan berlangsung formal, kaku, dan membosankan. Akan beda jika rakyat itu masih ada hubungan keluarga dengan sang pejabat. Mereka sudah saling kenal. Komunikasi menjadi tidak formal, santai, dan sangat menyenangkan. Padahal posisinya tetap sama: antara rakyat dengan seorang pejabat tinggi.

Secara sederhana bisa dibilang ada hijab. Ada sesuatu yang mendindingi antara hati seorang manusia dengan Allah swt. Dinding ini bisa menebal, bisa juga menipis. Bahkan nyaris tak ada dinding sama sekali.

Firman Allah swt. dalam surah Qaf ayat 16, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

Masalahnya, sedekat itu pulakah seorang hamba Allah kepada Allah swt. Ini yang akhirnya menentukan keharmonisan dan kenikmatan dalam beribadah. Dan ini pula yang menentukan bermutu tidaknya ibadah seorang hamba Allah swt.

Mutu ibadah yang terkesan sederhana ini, ternyata punya dampak yang luar biasa dalam tatanan kehidupan manusia. Mutu ibadah seseorang sangat berpengaruh pada sepak terjangnya di dunia nyata. Apakah terhadap sesama manusia atau dengan alam lingkungannya.

Dalam hal shalat misalnya, Al-Qur’an menyebutnya dengan mereka yang lalai dari shalat. “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” [QS. Al-Ma'un (107): 4-7]

Bagaimana mungkin orang yang rajin shalat bisa tak peduli dengan lingkungan, bahkan bisa berbuat jahat dengan saudara seiman? Ini menandakan kalau shalat yang dilakukan tidak bermutu sama sekali. Karena pengaruh shalatnya tidak terlihat dalam hubungan sosialnya dengan yang lain.

Rasulullah saw. mengatakan, “Maafkanlah kesalahan orang yang murah hati (dermawan). Sesungguhnya Allah menuntun tangannya jika dia terpeleset (jatuh). Seorang pemurah hati dekat kepada Allah, dekat kepada manusia dan dekat kepada surga. Seorang yang bodoh tapi murah hati lebih disukai Allah daripada seorang alim (tekun beribadah) tapi kikir.” (HR. Athabrani)

Ternyata, jauh tidaknya seseorang kepada Allah bisa dilihat dari hubungannya dengan orang sekitar. Kalau seseorang tidak disukai dengan orang sekitarnya, terlebih sesama mukmin, berarti hubungan orang itu dengan Allah swt. seperti minyak dengan air. Terlihat seperti menyatu, padahal selalu pisah.

Perhatikanlah bagaimana sosok Rasulullah saw. di mata para sahabatnya. Begitu dekat, begitu dicintai. Rasulullah saw. buat para sahabatnya bisa seperti ayah dengan anak, antara sesama sahabat dekat, dan seperti guru dengan murid.

“Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” [QS. At-Taubah (9): 128]

Dekat tidaknya seseorang dengan Allah swt. juga bergantung pada diri orang itu sendiri. Dan pintu itu ada pada kebersihan hati, kekuatan iman, serta istiqamah dalam mentaati aturan Allah dalam kehidupan.

Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” [QS. Al-Baqarah (2): 186]

Andai ibadah menjadi sesuatu yang menyenangkan buat diri seseorang, dia akan menjadikan shalat persis seperti yang dilakukan Rasulullah terhadap shalatnya. Rasulullah saw. bila menghadapi suatu dilema (situasi yang sukar dan membingungkan), beliau shalat. (HR Ahmad)

Sumber : Dakwatuna

Lanjutin Baca >> Menikmati Kesegaran Ibadah

Thursday, April 1, 2010

Apa itu Tarbiyah?


Secara bahasa Tarbiyah itu maknannya adalah pendidikan atau pembinaan. Selain dua istilah itu ada lagi istilah lainnya yang terkait rapat iaitu halaqah. Secara istilah halaqah bererti pengajian dimana orang-orang yang ikut dalam pengajian itu duduk melingkar. Dalam bahasa lain bisa juga disebut Majlis ilmu, atau forum yang bersifat ilmiyah.

Istilah halaqah ini sangat umum di timur tengah dan biasa dilakukan di banyak masjid. Bahannya berkaitan dengan kitab tertentu seperti aqidah, fekah, hadits, sirah dan seterusnya. Contoh yang paling mudah bisa kita dapati di dua masjid Al-Haram, Mekkah dan Madinah. Setiap hari selalu dipenuhi dengan halaqah yang diisi oleh para masyaikh / ustaz yang merupakan pakar di bidangnya.

Sedangkan istilah liqo` lebih umum dari halaqah, karena isinya bisa saja bukan merupakan kajian ilmiyah, tetapi bisa diisi dengan rapat, pertemuan, musyawarah dan seterusnya.

Istilah halaqah umumnya sering dikaitkan dengan pengajian dalam format kelompok kecil (maksimum 12 orang), dimana ada satu orang yang bertindak sebagai ketua sumber yang sering diistilahkan dengan murabbi / pembina. Secara umum, format halaqah dengan jumlah terbatas ini memiliki kelebihan dan kekurangannya.

Kelebihannya adalah bahwa anggota dari halaqah itu biasanya adalah orang-orang yang sudah terpilih, sehingga lebih mudah untuk menanganinya berbeza apabila jumlahnya terlalu banyak. Sehingga pengawalan dari murabbi akan lebih sempurna.

Kekurangannya adalah apabila kemampuan sang murabbi ini terbatas baik dari sisi waktu, ilmu dan kemampuan dalam membina, sehingga menimbulkan kebosanan dan kejenuhan. Dari sisi ilmu dan wawasan, halaqah kecil ini akan sangat tergantung dari wawasan sang murabbi. Bila kemampuannya baik, maka umumnya anggotanya pun punya wawasan yang baik.

Sehingga meski pada beberapa sisi ada kelebihannya, tapi halaqah kecil ini perlu juga dilengkapi dengan penambahan ilmu-ilmu ke-islaman secara lebih lanjut dan lebih luas, bila ingin mencetak orang-orang yang ahli dalam bidang syariah Islam. Sekedar ikut halaqah yang jam pertemuannya hanya 2-3 jam sepekan tentu sangat kurang bila tujuannya adalah mendalami ilmu-ilmu keislaman. Apalagi bila sang murabbi terbatas ilmu dan kemampuan bahasa arabnya.

Tapi umumnya, halaqah yang banyak diselenggarakan itu memang tidak bertujuan mencetak ahli syariah, tetapi lebih kepada membentuk wawasan dan kepribadian yang Islami. Untuk bisa menelurkan ahli syariah, yang dibutuhkan adalah kuliah di fakultas syariah (tidak cukup juga hanya sekedar ikut kajian mingguan).

Dan untuk melahirkan aktifis yang memiliki wawaan fikrah Islam serta memiliki kepribadian yang islami, sarana halaqah umumnya lumayan bermanfaat.

Namun semua itu tidak lain hanyalah wasilah (sarana) yang bisa dimanfaatkan dalam rangka dakwah kepada Allah dan melahirkan generasi yang islami.

Penulis : Amalul

Lanjutin Baca >> Apa itu Tarbiyah?

Tuesday, March 30, 2010

Filosofi Bunga


Pernah melihat bunga, sesaat merekah indah penuh pesona. Tak kuasa kita menyentuhnya apalagi memetiknya. Yang berani kita lakukan hanyalah memandangnya dengan penuh takjub akan kuasa Tuhan dengan segala ciptaan-Nya.

Apa yang terjadi selanjutnya, adalah bunga tersebut dihinggapi lebah atau kumbang dan dihisap madunya hingga layu dan digantikan oleh tunas baru. Membutuhkan waktu lama untuk bunga baru mengembangkan kelopaknya kembali terlihat indah seperti ranum nya gadis yang memesona pandangan mata.

Perjuangan panjang dengan memupuk pohon dan merawat bunga itu hanya sekejap hilang oleh hisapan lebah atau kumbang yang menghinggapinya.

Itulah takdir sang Bunga. Lahir untuk dihisap madunya. Yang membedakan dengan setiap bunga adalah oleh siapa ia dihisap. Apabila ia dihisap oleh kumbang maka madunya akan sia-sia. Sebaliknya bila madunya dihisap oleh lebah maka ia akan memberikan manfaat bagi semesta alam. Madunya akan dibawa oleh lebah lalu membangun karya besar; sarang madu. Sarang itu akan di ambil manusia untuk dimanfaatkan sebagai obat sehingga manusia yang memakannya akan sehat dan mampu membuat karya besar serta membangun peradaban umat yang mulia.

Setelah itu bunga akan layu dan lebah akan mati. Namun mereka mati dengan mulia. Mereka saling meneguhkan jihad satu sama lain. Pengorbanan mereka sungguh membawa kemanfaatan, insya Allah dengan mendapat Ridho Alloh.

Sebaliknya sang Bunga yang dihisap oleh kumbang hanya akan mati dengan sia-sia tanpa meninggalkan manfaat sedikit pun. Pengorbanan Bunga akan sia-sia karena Kumbang hanya mengambil madu nya untuk memenuhi nafsu nya saja dan kumbang pun hanya bermalas-malasan di suatu pohon hingga mati.

Filosofi Bunga, sama dengan Wanita. Wanita diciptakan dengan segala Keindahan yang diberikan Rabb-Nya. Begitu menggoda hingga laki-laki yang berperan sebagai lebah maupun kumbang ingin menghisap madunya.

Pilihan ada pada wanita, apakah ia mengizinkan madunya dihisap oleh lebah, seorang lelaki sholeh yang siap untuk membangun umat ini menuju kemuliaan. Atau mengabdikan dirinya pada sang kumbang, lelaki yang hanya memenuhi nafsu syahwatnya saja.

Begitu pun kaum lelaki. Apakah ia mengikrarkan dirinya untuk menjadi lebah. Selalu menghasilkan kebaikan dan siap bertarung menjaga harga dirinya. Ia adalah kesatria, bersama yang lainnya membangun peradaban umat yang mulia.

Sebaliknya, lelaki yang menjadikan dirinya sebagai kumbang. Hanya mampu menuruti kehendak hawa nafsunya, sehingga ia mati dalam keadaan sia-sia. Ia adalah pecundang yang lahir dan mati tanpa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Kawan, aku hanya ingin menjadi lebah yang layak mendapatkan sekuntum bunga dengan segala keindahannya. Cukup satu saja, kawan! Dan Aku ingin membuat pengorbanannya berarti. Aku tak tega melihat pengorbanan lain yang diberikan padaku selain dirinya.

Duhai permataku, dinda
Sejuta pesonamu hadir dalam jiwa
Oh dinda, senyumanmu mampu membuatku tak menentu
Dinda, binar bola matamu terangi hariku
Ketenangan bagai telaga yang kau berikan. (Gradasi)

=== Hingga sang Lebah mengatakan Pada Bunga ===

Kupinang engkau dengan Al Quran
Kokoh dan suci ikatan cinta
KuTambatankan hati penuh marhamah
Arungi bersama samudera dunia

Jika terhempas dilautan duka
Tegar dan sabarlah tawakal pada-Nya
Jika berlayar di suka cita
Ingatlah tuk selalu syukur pada-Nya

Hadapi gelombang ujian
Kesabaran tegar tawakal
Arungi samudra kehidupan
Ingatlah syukur pada-Nya.

Lebah di sebelahku mengatakan
“ Bagaimana kau bisa membangun sarang lebah yang besar jika kau hanya mengambil madu dari satu Bunga ? “

“Maka aku akan mencari bunga yang besar, jadi aku bisa membangun sarang lebah yang cukup, hanya dengan mengmbil madu dari satu Bunga.”

Penulis :
Kang Firman

Lanjutin Baca >> Filosofi Bunga

Friday, March 26, 2010

Kenapa Kita Perlu Beristigfar 70 atau 100 Kali Lebih Sehari ?


Imam Bukhari rahimahullah berkata di dalam Shahihnya, di kitab ad-Da’awaat:

Bab. Istighfar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sehari semalam.

Abul Yaman menuturkan kepada kami. Dia berkata: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari az-Zuhr’i. Dia berkata: Abu Salamah bin Abdurrahman mengabarkan kepadaku. Dia berkata: Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya meminta ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (Shahih Bukhari cet. Maktabah al-Iman, hal. 1288. Hadits no 6307)

Imam Muslim rahimahullah berkata di dalam Shahihnya, di kitab adz-Dzikr wa ad-Du’aa’ wa at-Taubah wa al-Istighfar:

Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata: Ghundar menuturkan kepada kami dari Syu’bah dari Amr bin Murrah dari Abu Burdah, dia berkata: Aku mendengar al-Agharr dan dia adalah termasuk sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika dia menyampaikan hadits kepada Ibnu Umar. Ketika itu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai umat manusia, bertaubatlah kepada Allah. Kerana sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari kepada-Nya seratus kali.” (Shahih Muslim yang dicetak bersama syarahnya jilid 8, hal. 293. Hadits no 2702)

Itulah gambaran istigfar Nabi saw. agar di contohi oleh kita kaum Muslimin. Persoalan yang timbul mengapa pesuruh Allah yang maksum ini melakukan sedemikian sedangkan begitu banyak janji kemenangan dan syuga telah Allah kurniakan kepada baginda saw.. Bahkan bukan itu sahaja, jika dilihat dari sudut jihad baginda saw. dalam menegakkan hukum Allah, itu sebenarnya lebih jauh untuk membuktikan kesungguhan dan keikhlasan baginda saw..

An-Nawawi rahimahullah berkata setelah menjelaskan kandungan hadits ini, “Adapun kita -apabila dibandingkan dengan Nabi- maka sesungguhnya kita ini jauh lebih membutuhkan istighfar dan taubat -daripada beliau-…” (Syarh Muslim [8/293]).

Benarlah apa yang dikatakan oleh an-Nawawi, semoga Allah merahmati dan mengampuni kita dan beliau. Kurun baginda saw. adalah kurun yang terbaik yang telah membukan ruang kepada perkembangan Islam hingga ke hari ini. Kurun yang di penuhi dengan generasi yang hidup dengan Al-Quran dan segala lapangan. Tetapi mereka juga tidak lekang daripada senantiasa bertaubat kepada Allah swt..

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Ahmad bin Yunus dari Abu Syihab dari al-A’masy dari ‘Umarah bin ‘Umair dari al-Harits bin Suwaid dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, beliau berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seperti orang yang sedang duduk di bawah kaki bukit dan khawatir kalau-kalau bukit itu akan runtuh menimpanya. Adapun orang yang fajir/pendosa maka dia melihat dosa-dosanya seolah-olah seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya lalu dia usir dengan cara begini.” Abu Syihab berkata, “Maksudnya adalah dengan sekedar menggerakkan tangan di atas hidungnya.” … (lihat Shahih Bukhari, hal. 1288)

Marilah kita hidupkan Sunnah/ajaran yang telah banyak ditinggalkan manusia ini, ayyuhal ikhwah -wahai saudaraku- semoga Allah menggolongkan kita di antara hamba-hamba-Nya yang beruntung.

Sumber : Dakwah

Lanjutin Baca >> Kenapa Kita Perlu Beristigfar 70 atau 100 Kali Lebih Sehari ?

Wednesday, March 17, 2010

Kami Adalah Da'i


Nahnu Du’aatun Qabla Kulli Syai’in. “Kami adalah dai sebelum jadi apapun.”
Suatu gambaran pribadi yang unik dengan penataan resiko terencana untuk meraih masa depan bersama Allah dan Rasul-Nya. Inilah kafilah panjang, pembawa risalah kebenaran yang tak putus sampai ke suatu terminal akhir kebahagiaan surga penuh ridha Allah swt.
Setiap muslim adalah dai. Kalau bukan dai kepada Allah, berarti ia adalah dai kepada selain Allah, tidak ada pilihan ketiganya. sebab dalam hidup ini, kalau bukan Islam berarti hawa nafsu. Dan hidup di dunia adalah jenak-jenak dari bendul waktu yang tersedia untuk memilih secara merdeka, kemudian untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Rabbul insan kelak. Bagi muslim, dakwah merupakan darah bagi tubuhnya, ia tidak bisa hidup tanpanya. Aduhai, betapa agungnya agama Islam jika diemban oleh rijal (orang mulia).
Dakwah merupakan aktivitas yang begitu dekat dengan aktivitas kaum muslimin. Begitu dekatnya sehingga hampir seluruh lapisan terlibat di dalamnya.Sayang keterlibatan tersebut tidak dibekali ”Fiqh Dakwah” sehingga kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih besar daripada kebaikan yang diperbuat.
Disini menjadi jelas akan pentingnya kebutuhan terhadap fiqh dakwah, sebagaimana digambarkan para ulama, bahwa ”kebutuhan manusia akan ilmu lebih sangat daripada kebutuhan terhadap makan dan minum”. Sehinga penting bagi kaum muslimin yang telah dan hendak terjun dalam kancah dakwah untuk membekali diri dengan pemahaman yang utuh terhadap Islam dan dakwah Islam. Karena orang yang piawai dalam menyampaikan namun tidak memiliki pemahaman yang benar terhadap Islam ”sama bahayanya” dengan orang yang memiliki pemahaman yang benar akan tetapi bodoh di dalam menyampaikan, mengapa?
Pertama; ia akan menyesatkan kaum muslimin dengan kepiawaiannya (logika kosongnya). Kedua; Hal itu akan menjadi ”dalil” bagi orang-orang kafir dalam kekafirannya (keungulan bungkusannya).
Adalah fiqh dakwah merupakan sarana untuk menjembatani lahirnya pemahaman yang shahih terhadap Islam didukung kemampuan yang baik di dalam menyampaikan. Sehingga dengan aktivitas dakwah ini ummat dapat menyaksikan ”Islam” dalam diri, keluarga dan aktivitas para dai yang melakukan perbaikan ummat secara integral, mengeluarkan manusia dari pekat jahiliyah menuju cahaya Islam.
Bagi mereka yang yang berjalan diatas rel kafilah dakwah menuju cahaya dan kebahagiaan dunia dan akherat, dapat melihat prinsip-prinsip dakwah dan kaidah- kaidahnya, agar menjadi hujjah atau pegangan bagi manusia dan menjadi alasan di hadapan Allah, Ustadz Jum’ah Amin Abdul Aziz memaparkan tentang hal ini, yaitu; ”Fiqh Da’wah: Prinsip dan kaidah dasar Dakwah”, yang diambil dari usul fiqh sebagai bekal para dai tersebut adalah sebagai berikut:
1. Qudwah (teladan) sebelum dakwah
2. Menjalin keakraban sebelum pengajaran
3. Mengenalkan Islam sebelum memberi tugas
4. Bertahap dalam pembebanan tugas
5. Mempermudah, bukan mempersulit
6. Menyampaikan yang ushul (dasar) sebelum yang furu’ (cabang)
7. Memberi kabar gembira sebelum ancaman
8. Memahaman, bukan mendikte
9. Mendidik bukan menelanjangi
10. Menjadi murid seorang imam, bukan muridnya buku.
Harapan, kiranya Allah swt senantiasa mencurahkan taufiq dan petunjuk-Nya kepada para dai yang ikhlas menyeru manusia ke jalan Allah, memperbaiki diri, keluarga dan masyarakat serta tempat kerja, sehingga Allah terlibat dalam urusan dan kebijakan-kebijakan yang akan ditetapkan untuk orang banyak, demi tegaknya tatanan Islam yang indah dalam kehidupan dengan bimbingan Alah dan sesuai panduan manhaj (aturan) dakwah Rasulullah saw. Wallahu ‘alam

Sumber : Dakwatuna

Lanjutin Baca >> Kami Adalah Da'i

Networked Blogs

Blog Archive

Subscribe via email

RSS Feed Subscribe via RSS FEED

Subscribe to posts via email for free :